Bandar Sakong Bandar Q Bandar Sakong Bandar Sakong

Aksi Brutal Dan Biadap 3 Mahsiswa UNJ Memotong Ayam Di atas Gambar Presiden Joko Widodo Dan Wapres Jusuf Kalla

Buletin365 merupakan sumber informasi terpercaya dan terupdate, Sumber berita teraktual, Informasi terbaru nasional dan internasional

Mungkin anda bertanya, Apa saja sich konten yang di bahas Buletin365?

Tentunya konten yang di bahas Buletin365 yaitu:

Peristiwa Nasional Internasional Selebritis Music Health Info Life Sports

Untuk konten yang di bahas saat ini, berikut ulasannya:

Bandar Sakong Bandar Sakong
Aksi brutal dan biadab ketika berdemo 

Buletin365.com Aksi brutal dan biadab ketika berdemo tampaknya malah membuat ketiga mahasiswa ini menjadi tenar dan disorot, ujung ujungnya aksi mereka malah menimbulkan tindakan pelaporan oleh pecinta hewan yang merasa perbuatan tersebut tidak masuk akal dan menunjukan prilaku yang tidak manusiawi..

Animal Defender mengecam tindakan demo mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dalam aksinya memotong ayam di atas gambar Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Ketua Animal Defender, Doni Herdaru Tona, menyebut aksi itu tidak pantas dilakukan oleh mahasiswa.

“Buat beberapa orang alah itu cuma ayam, kalau ini kita kasih angin atau permisif, bar-bar seperti ini, kali ini ayam, besok-besok orang. Karena menganggap remeh nyawa dalam proses penyampaian pendapat itu bukan ciri dari masyarakat madani, masyarakat yang beredukasi dengan baik, yang dipelopori oleh mahasiswa yang berperasaan yang berempati adalah cita-cita kita dalam koridor berdemokrasi,” kata Doni Herdaru Tona

Doni membenarkan setiap orang dijamin haknya untuk bebas menyatakan pendapat. Namun dia menyanyangkan adanya eksploitasi terhadap hewan dalam proses tersebut.

“Setiap orang dijamin kebebasan berpendapat tapi sebaiknya tidak menggunakan hewan untuk mengeksploitasi rasa mereka ada cara-cara yang elegan dan lebih terdidik. Perlindungan hewan pasal 302 KUHP yang bisa kita terapkan kita tuntut ke mereka. Saya percaya adik-adik mahasiswa bisa dididik, dan diedukasi, paham dengan otokritik, menyampaikan pendapat lho. Nah, ketika mereka mengkritik orang tapi ketika mengkritik orang tidak mau dikritik itu berrati ada yang salah,” urai dia.

Doni menambahkan dirinya bersama tim edukasi Animal Defender sudah berusaha untuk menemui para mahasiswa pelaku demo tersebut untuk mediasi pada Jumat (17/2). Namun usaha itu gagal karena mahasiswa tersebut tidak menepati janjinya padahal Doni dan timnya sudah datang di tempat yang dipilih oleh para pelaku.

“Ternyata kita menunggu nyaris satu jam tidak ada kabar dari mereka kita pulang. Pas pulang ada kabar kalau mereka baru mau on the way, wah ini nggak bener nih. Buat kita mahasiswa apalagi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) itu lingkaran mahasiswa yang lebih intelek apalagi berhubungan dengan waktu dan tidak merugikan orang lain,” keluh dia.

Untuk itu pihaknya berencana untuk menyampaikan protes resmi ke rektorat Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Doni akan meminta pihak rektorat memberi sanksi. Namun jika tidak ada tanggapan dari rektorat pihaknya pun siap melapor ke pihak berwajib.

“Kita berencana Senin (20/2) ke rektorat untuk menyampaikan protes resmi. Sebatas baru imbauan dan meminta rektorat menjatuhkan sanksi kepada mereka karena upaya mediasi pun sebenarnya gagal karena ulah mereka sendiri. Cuma sanksi di tingkat rektorat, cuma kalau di rektorat tidak ada tindakan nyatanya coba kita nanti ke polisi deh,” paparnya.
Doni pun menyayangkan pernyataan pihak rektorat yang menyebut video itu direkam pada Oktober 2016 namun baru viral sekarang. Dia menjelaskan baru mendapat video pada Rabu (15/2) dan bukan menjadi alasan tindakan tersebut tidak dikritik.

“Buat kami, mau tahun lalu atau kapan, aksi penyiksaan hewan kapanpun harus dikritisi. Kami baru dapat video tersebut tanggal 15 Februari 2017. Jika kawan-kawan lain tahu aksi tersebut lalu diam saja dan permisif, ini malah ada sesuatu yang salah dan aneh dengan mereka,” tegas dia.

Terkait wacana pelaporan ke kepolisian, Doni beralasan para pelaku dalam video tersebut telah melakukan penganiayaan terhadap ayam. Untuk itu dia bakal melaporkan para pelaku dengan tuduhan melakukan penganiayaan terhadap hewan.

“Sejalur dengan garis perjuangan Animal Defender sebatas kita mengkritisi cara mereka menyatakan pendapat di muka umum yang disertai penganiayaan hewan. Tapi di saat ada pihak lain yang concern terhadap penghinaan lambang negara atau presiden dan wapres yang kita nilai sangat hostile melihat kepala negara kita dikucuri darah lho itu elemen lain pun sangat gerah melihat itu mungkin akan bersikap. Tapi kita membatasi diri pada kasus penganiayaannya dulu,” pungkas dia.

Sebelumnya diberitakan pada video demonstrasi, terlihat sekelompok mahasiswa yang memakai almamater UNJ melakukan seremoni di tengah aksi demo. Tiga orang mahasiswa memotong leher ayam hingga kepalanya putus dan darahnya berceceran di gambar poster Presiden Jokowi dan Wapres JK yang diletakkan di bawah.

Terkait hal ini pihak rektorat UNJ telah membenarkan ketiga orang yang terlihat di video tersebut adalah mahasiswa mereka. Kepala Kantor Hubungan Masyarakat (Humas) UNJ Asep Sugiharto mengatakan pihaknya tetap melakukan penyelidikan dan sifatnya masih internal. UNJ juga telah mengidentifikasi mahasiswa yang ada di video ataupun foto viral itu.

“Wakil Rektor III di bidang kemahasiswaan beserta prodinya sudah memanggil anak-anak yang ada di video dan foto tersebut. Jadi secara internal sudah kita proses berdasarkan mekanisme yang ada di kampus kita,” jelas Asep.

Baca Juga: Korut: Kami Akan Menolak Hasil Autopsi Kim Jong-nam

Post a Comment