Mengapa Ruang Pidato Raja Salman Menyerupai dengan Pelaminan?

Share:
Capsa Susun
  
Dekorasi Penyambutan Raja Salman

Buletin365.com, Jakarta - Ruang Rapat Paripurna I DPR Kompleks Parlemen, Senayan, akan menjadi saksi bersejarah pidato Raja Salman bin Abdulazis al Saud hari ini.

Jauh hari, Gedung DPR sudah melakukan persiapan untuk menyambut Raja Salman, termasuk ruang rapat paripurna itu.

Pantauan Buletin365.com, mulai dari lantai dasar hingga pintu masuk, semua diperindah menyerupai pelaminan. Hiasan bunga berwarna-warni tertata rapi di tangga, lantai, hingga tembok ruangan yang berada di Gedung Kura-Kura ini. Lantai gedung pun telah dilapis dengan balutan karpet merah.

Penanggung jawab demokrasi, Ratih Raharnani, mengatakan ada 20.000 tangkai bunga yang terdiri dari 20 jenis bunga yang dipakai untuk menghiasi ruang untuk pidato Raja Salman.

Beberapa di antaranya yakni mawar, sedap malam, dan beberapa bunga lain yang menarik perhatian dan kesegaran.

Ratih menjelaskan warna tersebut merupakan simbol yang menginterpretasikan kedua negara.

  
Hasil Dekorasi

"Merah putih kan Indonesia, hijau kan Arab Saudi. Perintah pimpinan (Setya Novanto) minta dihiasin seberkesan mungkin," kata Ratih.

Sementara, kata Ratih, pihak Arab Saudi menyebut bahwa Raja Salman menyukai mawar putih. Sehingga bunga itu lebih dominan ketimbang warna lain.

"Kita diminta banyakin bunga mawar putih, karena raja sangat suka bunga itu," jelas Ratih.

Ia mengakui ide menghias ruangan dengan bunga identik dengan pesta perkawinan. Sebab perspektif Indonesia jika banyak bunga-bunga menyerupai dengan pesta perkawinan.

Sementara di Arab Saudi, kata dia, jika disambut dengan bunga-bunga diartikan penyambutan yang luar biasa.

"Karena di sana kan enggak ada bunga-bunga kaya di sini," kata Ratih.

"Intinya dekorasi yang kami hadirkan ini Indonesia banget. Bunga-bunga ini kan juga khas Indonesia. Lalu gebyok (ukiran) jawa yang dipasang di bawah serta kain batiknya itu juga Indonesia. Intinya itu yang mau kami sampaikan lewat dekorasi," lanjut Ratih.

No comments