Panglima TNI: Narkoba dan Terorisme Ancaman Negara

Share:
Capsa Susun

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebelum mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Panitia Khusus (Pansus) RUU Pemilu di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (13/12). 

Buletin365.com, Padang - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membeberkan terorisme dan narkoba menjadi ancaman negara saat ini. Kedua jenis ancaman itu dianggap dapat melemahkan negara.

"Terorisme dan penyalahgunaan narkoba adalah ancaman serius yang bisa melemahkan pertahanan negara, itu bisa dilihat historis serta data yang ada saat ini," kata Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (5/4/2017).

ecara historis tentang narkoba, seperti dikutip dari Antara, ia memaparkan kejadian perang candu ganja di Cina pada 1834-1842, yang akhirnya berimplikasi jatuhnya Cina ke tangan Inggris pada masa itu.

Sementara data yang terjadi di Indonesia saat ini, di hadapan mahasiswa, ia menampilkan sejumlah data yang bersumber dari Kepolisian RI dan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Pada 2016 tercatat 5,1 juta orang Indonesia yang terlibat penyalahgunaan narkoba, sebanyak 15.000 jiwa meninggal dalam setahun.

Juga diperlihatkan tren meningkatnya sabu hasil sitaan beberapa tahun terakhir. Di mana pada 2014 tercatat sebanyak 1,1 ton, sementara pada 2015 tercatat 4,5 ton.

"Peran semua pihak diperlukan untuk menjaga orang-orang terdekat dalam penyalahgunaan obat terlarang ini, terutama bagi diri masing-masing," kata dia.

Gatot juga menyebutkan terorisme juga merupakan suatu ancaman. Peraturan yang lebih ketat dalam pengawasan, pengembangan, dan penindakan terhadap terorisme.

Ia juga mengimbau agar warga Indonesia bijak untuk menanggapi tindakan-tindakan provokasi yang bisa merusak keutuhan berbangsa dan bernegara. Terlebih hal-hal yang mengaitkan dengan keberagaman yang ada di Indonesia.

Dicontohkan pecahnya negara Yugoslavia dikarenakan permasalahan bahasa, dan Sudan yang terpecah karena persoalan agama.

Untuk menangkal hal-hal tersebut, ia mengajak untuk kembali ke Pancasila yang telah mengatur secara jelas dasar-dasar berkehidupan di Indonesia.

"Indonesia bukan milik suatu suku, agama, ataupun kelompok, tapi milik semua warga negara dari Sabang sampai Merauke. Kita harus bersatu menjaga keutuhan negara, terkhusus untuk para mahasiswa," kata Gatot Nurmantyo.

Baca Juga: Ahok: Sopir Transjakarta Diduga Kriminalisasi Pasti Dibela

No comments