Bandar Sakong Capsa Susun

Tuesday, September 12, 2017

Buletin365: Karenamu Hati Ini Terluka, Namun Perlahan Mulai Sembuh KarenaNya


Kita akan sering menangis, walau seringnya dengan diam-diam menyembunyikan perasaan. Rasa sakit itu memang menusuk-nusuk, menguliti setiap waktu yang kita miliki, menyibukkan kita untuk terus memikirkan perihnya. Ya, patah hati memang menyedihkan, terkadang membuat kita jatuh terpuruk, terjerembab seketika. Bahkan untuk hanya sekedar berdiri pun sudah tak mampu. Lalu bagaimana agar kita bisa berdamai dengan kenangan itu, memeluk semua rasa sakit, bertaut mesra dengan luka-luka, dan pada akhirnya mengikhlaskannya?

Pertama, mulailah membangun kepercayaan. Bahwa semua yang ada di sekitar kita tak akan termiliki selamanya. Semua yang ada dalam beranda hati, rumah mimpi, pun karib yang mengitari, takkan selamanya membersamai. Cepat atau lambat, semua yang ada di sekitar kita akan musnah, cepat atau lambat semua hanya akan tinggal kenangan. Percayalah, bahwa setiap hal yang pergi pasti memiliki arti. Entah untuk kedamaian hati kita yang ditinggalkan, atau untuk dia yang meninggalkan. Ya, bahkan kita tidak akan pernah tau. Apakah pertemuan kita dengan dia adalah rahmah, atau justru musibah. Maka, bagi kita yang telah berpisah, percayalah bahwa patah hati atas pertemuan yang kita rasa adalah salah satu anugrah terindah agar hati kita yang terlanjur patah, bisa berbunga dan tumbuh indah.

Setelah percaya bahwa kita tak memiliki apa-apa di semesta. Yang selanjutnya adalah berusaha menikam hati kita sendiri. Menikam hati agar tak terus memikirkannya, menikam hati agar tak terus membayangkan bermain di pelataran rumahnya, pun menikam hati agar tak terus mengingatnya. Berat memang, sungguh berat sekali. Karena dengan itu, kira harus bertahan dengan rasa sakit akibat menikam rindu yang terus melayang-layang. Tapi, dengan kita menikam hati kita sendiri, di situlah kita belajar melapangkan, belajar mengikhlaskan, belajar melepaskan. Dan perlahan namun pasti, hati kita akan peka terhadap rasa sakit itu, lalu perlahan-lahan kita menerima.

Kemudian yang ketiga sangatlah sederhana, saat sudah mulai terbiasa menikam hati kita untuk tak mengingat kenangan lama, selanjutnya adalah terus menyibukkan diri, menyibukkan dengan hobi-hobi yang menjadi keasyikan setiap hari. Jangan sampai kita sedikit saja diam terpaku, memikirkan banyak hal. Bergeraklah, sibukkan diri untuk melupakan semua itu, sibukkan diri untuk mimpi-mimpi yang masih panjang di depan. Dan terus bersamai kesibukan itu dengan keikhlasan paling tulus untukNya, bukan untuknya. Jika di perjalanan panjang kesibukan itu kita lelah, istirahatlah, rehatlah. Jangan patah, lalu menyerah.

Dan yang terakhir, jangan lupa untuk menyertakan Dia dalam setiap usaha melupakan yang kita lakukan. Berdo'a, berdo'a, dan berdo'a. Agar kita mampu berdamai dengan setiap kenangan tersebut, agar kita mampu memeluk kenangan menyakitkan, seperti memeluk boneka cantik. Setiap kita mengingat dia, ingatlah Dia terlebih dahulu. Jangan dahului dia sebelum Dia. Latih hati kita untuk mengutamakan Dia dari pada dia. Sebab, sekuat apapun usaha kita melupakannya, tak akan pernah bisa terlupakan, tanpa kasih sayangNya yang tak terbilang. Perbanyak do'a kepadaNya, agar hati kita mampu bangkit, agar hati kita mampu membangun kejutan-kejutan menarik setelah sebelumnya terpuruk kaku.

Ya, dari kesemua itu, yang terpenting adalah menyertakan Dia dalam setiap usaha melupakan yang kita lakukan. Kelak, patah hati yang menyakitkan ini akan perlahan-lahan sembuh. Kita akan mampu menerima segalanya dengan lapang dada. Menerima segalanya dengan hati yang lebih bergembira. Kalaupun toh kita benar-benar tak sembuh dari patah hati, setidaknya usaha kita untuk menyembuhkan hati yang terluka ini mampu memberikan kesadaran, bahwa dia memang tak pantas untuk kita sekarang, bahwa Dia jauh lebih merindukan kesholihan yang telah lama kita tenggelamkan.

Lihat juga Berita Lainnya:

Bandar Sakong