Buletin365: Kasih Tak Sampai

Share:
Capsa Susun

Di pagi hari dengan udara yang begitu sejuk, dan sang mentari pun mulai mengeluarkan sinarnya yang terang, aku duduk termenung di teras depan kost yang sederhana dan di temani satu cangkir kopi yang cukup membawaku pada kedamaian. Di tengah kedamaian nan hangat itu, terlintas di pikiranku tentang masa laluku bersama Kak Vino. Ya, masa lalu yang cukup sulit untuk dilupakan. Lima tahun sudah aku mencintainya, dan kini aku sudah mulai terbangun dari mimpi buruk itu. Mimpi yang selalu mendorongku untuk memilikinya. aku mengaguminya mulai dari kelas 2 SMP. Akan tetapi, cinta ini tidak berakhir bahagia layaknya di dongeng-dongeng. Aku mengaguminya selama 5 tahun. Namun, aku hanya bisa memilikinya dalam waktu 6 bulan. Mengharukan bukan?

Masih teringat jelas didalam pikiranku, di saat di mana aku mulai mengaguminya. Aku suka senyumnya, aku suka karismanya dan aku juga suka segala sesuatu yang dia lakukan. Aku mulai bingung, Apakah ini cinta? Apakah yang aku rasakan saat ini benar? Apakah ini benar-benar cinta? ataukah ini hanya rasa sayang yang timbul sesaat saja? Perlahan aku mulai menenangkan pikiranku. Aku sadar di tengah usiaku yang masih sangat muda(kecil) ini, mana mungkin aku bisa memilikinya? sedangkan usianya sudah sangat jauh di bandingkan dengan usiaku. Aku berusia 13 tahun sedangkan dia berusia 23 tahun.

Hmmmm, dengan nada pesimis aku menenangkan hati ini. Kemudian aku mulai berpikir kembali. Yang namanya cinta kan tidak memandang usia? Buktinya ayah dan ibu juga memiliki jarak usia yang cukup jauh, 10 tahun seperti yang aku rasakan saat ini. Sayangnya, aku tidak berani ungkapin perasaan ini ke dia. dan aku tidak mau dia tahu tentang perasaanku ini. Aku takut dia tidak mencintaiku. Aku takut jika aku hanya akan jadi bahan omongan karena mencintai seseorang yang 10 tahun jauh lebih tua dariku. Dan akhirnya rasa cinta ini terpendam di hatiku hingga aku kelas 3 SMA.

Tak terasa hampir 5 tahun aku mencintainya, tapi perasaan ini tidak berubah sedikit pun oleh berjalannya waktu, meskipun banyak laki-laki yang mendekatiku, itu tidak akan bisa merubah persaanku terhadapnya. Hari demi hari, tahun demi tahun telah berlalu dengan rasa yang terpendam ini. Tiba-tiba, suatu hari dia mengajakku bertemu di suatu tempat. Seketika itu perasaanku campur aduk tidak karuan. Aku bingung, mengapa dia ingin bertemu denganku? Apakah dia tahu perasaanku selama ini? Hanya kebingungan, ketakutan dan rasa tidak percaya diri yang aku rasakan.

Ketika sampai di tempat pertemuan, aku yang suka bercanda dan berceloteh ini itu hanya bisa terdiam dan menunduk. Suasana pun menjadi sunyi. Perlahan dia memulai percakapan.

“Marsha, aku ingin bertanya sesuatu ke kamu.” apakah kamu dari dulu mencintai seseorang?dan apakah orang itu adalah aku?” dengan nada serius dia bertanya padaku.


Aku  menelan ludah dan melotot ke arahnya, bagaimana mungkin dia bisa tahu tentang perasaanku selama ini? Kemudian, perlahan aku menjawab dengan rasa gugup.


“ii..ii…iya, aku mengagumi kakak sudah dari kelas 2 SMP. Aku udah coba hapus perasaan ini tapi tidak bisa. Aku mencintaimu kak.”  Seketika air mataku jatuh saat aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.

“Terus kenapa kamu memendam perasaan itu? Marsha, kamu tahu aku juga mencintaimu. maukah kamu jadi pelengkap hidupku? dan maukah kamu jadi pendamping hidupku???” Tanya Kak Vino serius.

“Ta…tapi, usia kita kan jauh berbeda kak?”dengan gugup aku menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak peduli, emang cinta memandang usia?”sahutnya yang berusaha meyahkinkanku.


Perlahan dia mengusap-usap kepalaku dan memelukku. Hatiku begitu damai, senang, terharu menjadi satu. Perasaanku tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata. Memilikinya adalah anugerah terindah dalam hidupku. Dia adalah seseorang yang selama ini ada di dalam mimpiku, dan akhirnya hari ini juga aku bisa memilikinya. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Seiring dengan berjalannya waktu, cinta di antara kita begitu kuat. Dan orang tuanya pun mulai mengetahui hubunganku dengannya. Orang tuanya menginginkan agar kita berdua ke jenjang yang lebih serius, karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa usia Kak Vino sudah dewasa, dan ibunya pun juga sakit sakitan. Mereka menginginkan agar aku bisa menjaga Kak Vino.

Suatu hari orang tuanya menemui kedua orang tuaku untuk membicarakan tentang hubungan yang telah kita jalani selama ini. Kata demi kata telah terucap, akan tetapi kenyataannya tidak seperti yang direncanakan. Orang tuaku tidak mengizinkan aku untuk menikah di usiaku yang masih sangat muda. Mereka  menginginkan agar aku melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus SMA. Di tengah perbincangan, orang tuanya berusaha mengambil hati kedua orang tuaku.


“Ya, Marsha tetap kuliah kok, tapi lebih baiknya Marsha menikah terlebih dahulu dengan anak saya, agar ada yang menjaga Marsha juga.” Ucap ibunya Kak Vino kepada orang tuaku.



“Tidak bisa. Kalau Marsha sudah jadi ibu rumah tangga bagaimana kuliahnya nanti? apa ya bisa dia mengurus anak, mengurus rumah, dan kuliahnya secara bersamaan? pasti salah satu ada yang keteteran.” sahut ibuku dengan tegas.

“Tapi anak kita kan saling mencintai?” Jawab ibunya lagi yang berusaha menenangkan. Sepertinya ibuku mulai kebingungan untuk menjawab.

“Kalau begitu,semua keputusan ada di tangan Marsha.” jawab ibuku lemah!


Beberapa menit setelah orang tua Kak Vino pergi, ibuku menatapku dan berkata:

”Marsha, kalau kamu menginginkan untuk menikah dengan Vino, itu artinya kamu tidak usah kuliah, bagaiman mungkin kamu mengurus beberapa hal bersamaan? Jadi ibu rumah tangga itu nggak mudah nak…. ibu mohon sama kamu, kamu kuliah dulu ya. Cuma kamu harapan ibu satu-satunya. Ibu mana sih yang tidak senang melihat anaknya bahagia bersama pasangannya? Tetapi akan lebih bahagia lagi jika ibu melihat kamu menjadi sarjana terlebih dahulu sebelum kamu memakai gaun pengantin dan bahagia bersama orang yang kamu cinta.

Percayalah nak, jodoh nggak akan ke mana. Ibu yakin, jika Vino memang benar benar mencintaimu, dia akan menunggumu sampai kapan pun, lagian jika dia memang jodoh kamu, suatu saat dia pasti akan kembali padamu. Akan tetapi jika kamu meninggalkan pendidikanmu, maka tidak akan ada lagi kesempatan kedua.”


“Iya Marsha, lagian kamu kan masih terlalu muda.”sahut  ayahku yang kelihatannya sependapat dengan ibuku!


Aku hanya terdiam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? jika aku harus memilih untuk bersama Kak Vino, maka aku harus meninggalkan pendidikan aku, dan aku juga akan mengecewakan kedua orang tuaku yang selama ini membesarkanku. Tapi jika aku memilih untuk melanjutkan pendidikanku, aku tidak bisa bersama Kak Vino, orang yang selama ini aku impikan untuk jadi kekasihku, bertahun-tahun aku mengharapkannya. Di sisi lain aku juga akan menyakiti hati Kak Vino. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? aku bingung tak menentu seperti orang bodoh yang kehilangan arah.

Hampir setiap malam aku istikhoroh, dalam setiap sujudku aku selalu meminta petunjuk pada yang Maha Kuasa. Hari demi hari akhirnya aku menemukan jawaban dari Allah SWT. Aku yakin petunjuk dari Allah tidak akan salah, dan tidak akan membuatku menyesal dikemudian hari. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Aku sadar, bahwa ilmu itu lebih penting dari pada cinta. Dan aku ingat pada satu hadist: ridlo Allah tergantung pada ridlo kedua orang tua. Dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua. Jika orang tuaku lebih meridhoi aku untuk menuntut ilmu (melanjutkan pendidikan), kenapa aku harus memilih jalan yang lain? ya, meskipun hati ini berat sekali untuk meninggalkan Kak Vino. Tapi aku yakin jika dia memang jodohku, suatu saat akan kembali kepadaku. Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di salah satu Universitas Jakarta Jurusan Teknik Informatika.

Suatu hari aku menemui kak vino dan mengungkapkan semua keputusanku padanya:

“Kak, setelah 6 bulan kita menjalin cinta, kita lewati suka, duka, tangis, tawa bersama. Aku sadar bahwa kita tidak bisa meneruskan cinta ini. Usia kita yang jauh berbeda, Aku yang masih terlalu muda dan masih harus mengejar cita-citaku, orang tua kita yang berbeda dalam menentukan jalan hidup kita masing masing, membuatku sadar bahwa kita tidak bisa bersama. Ma’afkan aku kak, aku do’akan semoga kakak dapat yang lebih baik dariku, terima kasih karena kakak sudah memberikan warna yang indah dalam hidupku.

Aku akan melanjutkan pendidikanku di Jakarta kak. Do’akan aku ya, semoga aku mendapatkan jalan yang terang, semoga aku bisa jadi orang yang sukses. Aku janji, aku tidak akan melupakan kakak, karena kakak adalah orang yang pernah membuatku bahagia.” Tak terasa air mataku jatuh perlahan, aku tidak bisa menahan sakitnya hati ini, hatiku berat meninggalkannya.

“ya, nggak papa dek, aku berharap adek juga mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku, kakak juga minta ma’af karena kakak tidak bisa menunggu adek, adek jangan nangis, kalau adek nangis kakak juga ikut nangis. Mungkin kita memang nggak di takdirkan untuk berjodoh. Semoga suatu saat adek bisa menemukan orang yang lebih baik dari kakak. kakak do’akan semoga kelak adek jadi orang yang sukses, bisa bahagiakan kedua orang tua. aamiin…..” jawabnya dengan mata berkaca kaca.

Aku semakin tidak bisa membendung air mata ini. Aku terus menangis dan berusaha meninggalkannya pergi. Hatiku seperti tersayat pedang yang sangat tajam, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya deraian air mata yang dapat mewakili perasaanku.

Beberapa menit kemudian, aku mulai tersadar dari lamunanku.

Huft, untuk apa juga aku harus memikirkan masa lalu? dan kenapa aku harus menyesali semua ini? Ya, mungkin ini jalan Allah yang di pilihkan untukku. Di balik semua ini pasti Allah sedang memiliki rencana lain yang indah buat kehidupanku. Allah tidak memberikan semua yang kita inginkan, tapi Allah memberikan semua yang kita perlukan. Kadang kita sedih, kecewa dengan takdir Allah, tapi di balik semua itu Allah sedang merajut yang terbaik untuk kita.” Gumamku dalam hati.

Tak terasa hari sudah mulai panas, aku bergegas mandi kemudian berangkat ke kampus dengan penuh semangat. Didalam perjalanan ke kampus, aku berdo’a dalam hati. “Ya Allah, semoga kelak aku jadi orang yang sukses.” aamiin

Lihat juga Berita Lainnya: