Buletin365: Mengejar Semua Ketertinggalan Dalam Satu Waktu Bersamaan

Share:
Capsa Susun

Baru saja tadi siang saya membayar biaya pembangunan biaya kuliah sebagai mahasiswa lanjutan dari D-III Manajemen Universitas Negeri—satu-satunya Universitas terkenal daerah kami—ke sebuah kampus swasta yang jaraknya tidaklah jauh dari kampus lama. 1.000.000 untuk uang pembangunan, dan 3.000.000 untuk uang kuliah selama satu semester, jika ditotalkan ialah 4.000.000, rupiah!

Sekarang izinkan kucerikatan bagaimana kisahnya.

Aku lulus dari sekolah menengah pada tahun 2010, namun baru menjadi salah satu freshman di kampus (lamaku) pada tahun selanjutnya, yaitu tahun 2011. Kupikir—yang saat itu masih mengenakan seragam putih abu-abu itu—nanti ketika lulus akan merayakannya dengan menganggur setahun penuh bebas dari pendidikan dan buku.

Singkat cerita, aku pun lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Segera setelahnya langsung kurealisaikan rencana setengah matang tersebut itu.

Hari berganti hari berkumpul menjadi sebulan sampai akhirnya menjadi setahun. Lonceng perang kini telah berbunyi nyaring di telinga, sementara itu aku belum juga bergegas karena sangking lalainya tenggelam dalam lautan permainan. Ini terbukti, aku hanya mengikuti sempat pendaftaran  JMU (Jalur Mandiri Umum)—otomatis biaya kuliah pun akan sangat mahal—yang merupakan jalur pendaftaran terakhir yang diadakan pihak Universitas. Sedihnya lagi, D-III JMU. “Tidak apalah,” pikirku, “lagian Manejemen Informatika kan D-III!”

Ya, waktu itu jurusan tersebut masih berjenjang D-III, belum ada S-1.

Masih kuingat betul 3 jurusan yang kupilih waktu itu. Yang pertama ialah Manajemen Informatika. Kedua Manajemen Pemasaran, dan yang terakhir ialah Peternakan.saat itu aku begitu yakin akan diterima pada jurusan pertama—Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), sebab kupikir seorang paman tidaklah akan mengecewakan.

Waktu terus berjalan. Singkatnya, kepedean itu berubah menjadi sesuatu yang memilukan. Jujur saja, memang terselip kekecawaan teramat kepada Beliau. Bukankah begitu yang akan terjadi jika sepenuhnya mengandalkan manusia saja. Hingga beberapa tahun kemudian, aku pun bisa berdamai dengannya. Karena bagaimana pun juga, pilihan yang Allah Swt. pilih untukku ialah yang terbaik, baikku! Hal ini terbukti ketika aku mengikut test kesehatan. Dan langsung saja.

Ada kejadian konyol saat ikut test tersebut. Aku ditemani oleh seorang kawan ketika mengikuti semua tahap seleksi. Salah satunya ialah test kesehatan ini. Berdua—kawan satu kampung—kami berangkat ke TKP. Sesampainya di sana, kudapati banyak calon MaBa (Mahsiswa Baru) mengantri mulai dari luar. Singkat cerita, akhirnya tibalah giliran kami, nama kami pun dipanggil oleh Panitia.

Test Urin. Itulah test yang pertama. Kami disodorkan  masing-masing sebuah botol kecil oleh pihak pelaksana. Sudah, akhirnya selesai. Kini si botol—maaf—sudah dipenuh najis mukhaffafah. Kemudian aku diminta untuk meletakkan di atas meja besar yang sudah tersedia; dapat kulihat dua meja besar di sana. Panitia tidak memberiku informasi detail, aku pun meletakkannya di atas salah satunya. Kemudian setelah itu, aku pun keluar menuju kawan yang telah menuggu di sana.

“Sudah?” tanyanya.

“Beres!” mantapku.

“Di atas meja sebelah itu kan?” tanyanya lagi.

“Bukan! Meja sebelah sana!” jawabku sambil kujulurkan tangan, menunjukkan padanya.

“Itu untuk anak-anak Perempuan!” katanya sambil tertawa.

Oh sial! Langsung saja, aku pun kembali masuk ke sana dalam rangka menyudahi kekeliruan konyol itu. Sementara kuliah yang lain tertawa, begitu juga pihak Panitia. Ya, karena tidak ingin kelihatan kikuk sendirian, maka aku pun ikut tertawa.

Berangkat dari situ. Kami pun menuju bagian yang kedua, ialah Test Mata. Singkat cerita akhirnya giliran kami tiba juga. Nama kami pun dipanggil sekali lagi oleh Panitia.

Yang pertama masuk ialah kawan. Maka Ia pun masuk ke dalam ruang tersebut. karena penasaran, aku pun menyempatkan diri memperhatikan dari kejauhan, bersandar pada kusen pintu.

Dari kejauhan bisa kulihat dirinya beberapa kali disuruh menjawab ulang oleh abang panitia itu sambil membolak balikkan buku test buta warna di atas mejanya di sana, sehingga memakan waktu agak lama dari biasanya. Kemudian kulihat Ia disuruh pergi ke ruang sebelah, menghadap Panitia lain. Saat melewati pintu, seperti ada sesuatu yang begitu kuat mendorongku untuk tertawa. Singkat cerita, aku pun tertawa layaknya sebagai seorang sahabat, di kota orang sama-sama sebagai perantauan.

Nah, kini tibalah giliranku. Namaku pun dipanggil. Lagi-lagi, dengan percaya diri aku memasuki ruang tersebut. Bukan, bukan … bukan sombong, percaya diri dengan yang namanya sombong sangatlah jauh berbeda. Kini aku telah duduk di atas kursi yang sama yang baru saja telah diduki kawan tadi. Panitia pun membuka bebera lembar pertama.

Beres! Yang kedua dan ketiga, juga gampang! Kemudian berlanjut pada lembaran selanjutnya. Dan tetap saja aku bisa menjawabnya. Tapi, jawabanku tiba-tiba dibilang salah. Aku terkejut, kening mengerut. Panitia memintaku mengulang sekali lagi. Aku pun menjawabnya. Dan untuk kedua kalinya panitia menyalahi jawabanku.

“Apa ini? Apa lagi ini? Mungkinkah Ia mempermaikanku?” batinku sambil melihat-lihat gambar yang nampak seperti pelangi gagal mekar. Padahal aku 100% yakin dengan jawaban yang beri tersebut.

Bagaimana perasaanmu ketika apa yang anda asumsi “benar” berdasarakan sederet bukti yang anda asumsi telah “benar” namun divonis “salah” oleh orang asing hanya dalam tempo beberapa detik saja?

Tidak! Bahkan “marah” saja tidaklah cukup!

Begitulah perasaan yang kurasakan, bercampur aduk menjadi satu! Singkat cerita, aku pun mengalami nasib yang sama; pergi ke ruang sebelah.

Sesampainya di sana, aku kembali bersandar di kusen pintu memperhatikan kawan; nampak sedang duduk sopan di depan ibu Panitia. Tak lama Ia pun selesai, lalu keluar.

“Sudah?” tanyanya.

“Belum!” jawabku.

“Terus ngapain ke luar?” tanyanya lagi sambil menatapku lekat-lekat.

Kemudian aku pun memberinya keterangan—yang waktu itu aku masih dalam keadaan tidak percaya. Pantaslah, kini Ia balik menertawakanku. Dan tentu saja aku tidak marah, bahkan tersadar. Ya, untuk kedua kali aku pun ikut tertawa bersamanya, menerima nasib masing-masing, sebagai orang Buta Warna. Buta Warna Parsial adalah tepatnya.

Dan kemudian, setelah melalui proses panjang tahap seleksi, beberapa hari berikutnya, kami pun dinyatakan diterima sebagai angkatan tahun 2011—seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas.

Aku lewat di jurusan Manajemen Pemasaran (Fakultas Ekonomi) sedangkan dirinya lewat di jurusan Teknik Mesin (Fakultas Teknik). Ada pun jurusan yang sama-sama kami sukai itu, sederap selangkah sama-sama berbesar hati mengikhlaskannya.

Jujur saja, mahasiswa dengan status “salah jurusan” sedikit berpartisipasi dalam narasi kuliah berantakan dulu. 1, 2 dan 3 semester hancur berserakan lantaran sikap apatisme.

Tepat pada semester 3, aku mengalami kecelakaan serius sehingga harus menjalani operasi, tepatnya di bawah mata sebelah kiri. Dan ketika merasa semua sudah tidak “iya” lagi, aku pun mengambil non-aktif dalam rangka mengikuti test penerimaan Polisi—yang tak lebih  kuanggap sebagai pelarian di tahun itu juga.

Ya, aku sadar. Nanti aku pasti akan tersingkir lagi pada test yang sama. Namun kuliah yang tidak kusukai, menurutku lebih membuang waktu dan tidak berguna. Banyak sekali sebabnya dukungan datang dari semua orang terdekat kala itu. Namun hanya Tuhan saja yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku memilih untuk tidak menapaki jalan kotor suap-menyuap, bukan karena tidak cukup uang, tetapi Ilmu Agama yang kudapati dulu, ialah yang sangat berperan. Lagi pula, bukankah sudah habis masanya main suap-suapan, kan?

Dan kemudian singkat ceritanya lagi, setelah melewati perjuangan panjang nan melelahkan; tepat sekali! Aku pun tersungkur di test kesehatan!

Bulan berganti bulan. Useless, voiceless dan banyak lagi kesalahan lain datang menjamahku. Dalam seketika diriku berubah menjadi seorang pesimis, mungkin waktu itu akulah orang yang pesimis sedunia. Entahlah, hanya Tuhan saja yang lebih tahu. Sementara yang lain mungkin sedang tertawa gembira dalam setiap hari-harinya.

Iri? Dengki?

Tidak!

Alhamdulillah, nama aku tidak termasuk di dalam list panjang bersama orang-orang yang mempunyai penyakit hati tersebut.  Mungkin begitu banyak berkah kiranya tidak kusyukuri. Begitu banyak kesia-sian kutelan. Hingga sederet pil pahit adalah bagian yang terpaksa.

Hancur sudah! Kurasakan masa depanku telah terkapar seperti kapal yang baru saja kena hantaman ombak setinggi 30 meter di samudra luas. Dan bukanlah “buta warna” yang telah membuatku tidak mampu lagi melihat jelas ke depan, tidak juga air asin yang mungkin sempat sedikit masuk ke dalam mata sebelah kiri dan kanan.

Aku telah gagal dengan menyia-nyiakan semuanya; mulai dari waktu dan—yang terparah—kepercayaan Orang Tua; Tidak banyak yang bisa kulakukan kecuali terbaring lemas di atas “ranjang pesimisme” di kampung halaman!

Sungguh pernah kudengar orang dewasa berkata—ketika itu, aku masih terperangkap dalam tubuh bocah kecil, tepatnya saat berusia masih belum genap 10 tahun. Kata mereka: “Hidup ini keras!” Oh, hanya Tuhan saja yang lebih tahu, kupikir kata-kata mutiara tersebut hanyalah lelucon belaka. Lelucon biasa yang tidak perlu ditanggapi. Maksudnya, bagaimana—saat itu—aku mengerti; anda hanya akan teringat kepada yang namanya “rumah” ketika lapar saja, karena anda tidak pernah lepas dari pikiran: “Hey … ayo keluar, mari bersenang-senang!”

Dan setelah tragedi menyakitkan tersebut, tepat pada tahun 2013, aku mencoba bangkit sebisaku. Berkata pada diri: “Mari mengejar ketertinggalan!”

Jika saja bukan karena nikmat Allah Yang Maha Rahman, mungkin saat itu diriku masih pulas dalam kesia-sian. Aku tidak ingin lari lagi dari keputusan yang telah kubuat dulu. Aku pun kembali ke kampus mencoba mengejar ketertinggalan.

Ah, banyak kejadian aneh sebenarnya setalah itu yang masih ingin kuceritakan. Misalkan saja, dalam tiba-tiba namaku dipanggil untuk menghadap pihak Biro—karena IPK yang bahkan tidak sampai 1,00—dalam rangka kunsultasi dan membuat janji sungguh-sungguh akan mengikuti kuliah lagi.

Hari itu kupikir hanya diriku saja seorang, rupanya sampainya di sana kudapati banyak mahasiswa lain, yang tentunya dari fakultas-fakultas lain. Mereka juga telah gagal. Dan “kegagalan”, ialah sesuatu yang begitu banyak kupahami.

Semester berganti semester. Aku pun kembali mengikuti kuliah seperti yang kurencanakan. Beberapa semester itu pun akhirnya berlalu, Nilai IPK kini sudah mencapai standar. Dan akhirnya sampailah pada semester ke-8 yang kuyakini betul akan menjadi semester tarakhir, sehingga aku pun boleh naik sidang.

Dan lagi-lagi rencanaku meleset. Rupa-rupanya masih ada satu mata kuliah lagi yang belum kuikuti. Kali ini bukanlah salahku, bukan juga salah mereka. Mata kuliah tersebut memang tidak terdaftar di KRS Online, justru harus mendaftar langsung di Prodi jurusan. Yang lebih sakitnya lagi, mata kuliah ini merupakan mata kuliah semester genap, sehingga aku terpaksa harus menanti semester 10 di tahun depan. Ini artinya, “semester 10” merupakan kesempatan terakhir untukku; apakah aku mampu menendang diriku sendiri dari sana dengan mendapat titel A.Md? atau ditendang secara tidak terhomat oleh Universitas dengan status dropout? Hanya Tuhan saja yang lebih tahu.

Dan hampir saja aku percaya dengan angin surga palsu yang bertengger jelas di KRS Online saat itu. “Sisa studi anda 5 semester lagi,” begitu tulisannya. Padahal jenjang D-III maksimalnya 10 semester. Mungkin gara-gara itu juga, aku sempat sedikit berleha-leha di akhir-akhir. Kupikir masih banyak kesempatan terbentang di depan.

Tepat pada semester 10, yang kuyakini betul sebagai semester terakhir. 1 minggu menjelang sidang, tiba-tiba Ketua Prodi kembali menelfon, memberi informasi bahwa aku tidak bisa sidang, dikarenakan nilai mata kuliah belum juga menampakkan dirinya di KRS Online. Begitu juga dengan mahasiswa lain, semua terpaksa harus membayar uang kuliah semester depan hanya untuk bisa ikut sidang. Dan kali ini ialah kesalahan pihak kampus, tepatnya kesalahan sistem. Adek-adek jurusan—mungkin, begitu fakultas lainnya, mereka mengeluh tentang nilai mata kuliah belum keluar, sedangkan yang belum diambil malah keluar. Saat mendengar informasi menyedihkan yang kedua kalinya dari Ketua Prodi, aku hanya mencoba bersikap tenang, belajar dari pengalaman.

Hidup ini keras! Ia seumpama lem, hidup akan mengeras seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.

Bukan! Bahkan sebenarnya, anda saja yang menyikapinya dengan lembek—tidak tegas.

Menyerah?

Tentu saja tidak! Ini bukan akhir dunia.

Dan kemudian setelah melalui negosiasi panjang nan melelahkan beberapa bulan yang lalu; satu-satunya jalan keluar  ialah harus mengambil “Surat Kepindahan”.

Hari itu, salah satu Dosen bahkan datang menghibur. Beliau menerangkan bahwa aku tidak di-dropout, buktinya aku masih bisa mengambil surat pindah kanta Beliau. Ya, aku sangat menghargainya. Dan setiap kali teringat, aku selalu saja tertawa.

Dan sekarang di sinilah aku; masih mencoba mengejar ketertinggalan! Entah ini yang keberapa. Dan tentu saja aku tidak akan mampu tanpa pertolongan-Nya.

All praise is due to Allah Swt. Serta terimakasih kepada keluargaku dan juga kepada kalian semua kawan-kawanku yang senantiasa memberi support sampai sekarang, dan tak lupa ku berterimakasih sebesar-besarnya juga kepada para pembaca sekalian yang telah ikut mengambil andil dengan menyempatkan diri membaca kisah ini, yang berhamburan kemana-mana.

Terimakasih semuanya!

Lihat juga Berita Lainnya: