Orang Jenius Lebih Berisiko Menjadi Pencemas?

Share:
Capsa Susun

Buletin365, Jakarta - "Gila dan jenius itu beda tipis" -- steorotipe yang selama ini diarahkan kepada para orang pintar mungkin memiliki landasan dalam kenyataan.

Sebuah penelitian baru mendapati bahwa orang dengan IQ tinggi memiliki risiko lebih besar mengembangkan penyakit jiwa.

Tim peneliti Amerika Serikat (AS) menanyai 3.715 anggota American Mensa, yaitu orang-orang dengan IQ di atas 130. Sebagai catatan, "angka rata-rata IQ" dan "angka normal IQ" didefinisikan sebagai angka antara 85 dan 115.

Tim menanyakan anggota-anggota itu tentang diagnosis penyakit mental, termasuk autism spectrum disorder (ASD) dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Mereka juga diminta untuk melaporkan penyimpangan-penyimpangan mood dan kecemasan, atau apakah mereka diduga menderita penyakit mental yang masih harus mendapatkan diagnosis, demikian juga dengan penyakit fisiologis semisal alergi makanan dan sama.

Dikutip dari The Independent pada Kamis (19/10/2017), setelah membandingkan semua data itu dengan rata-rata nasional secara statistik untuk masing-masing penyakit, para peneliti mendapati bahwa orang-orang dalam komunitas Mensa memiliki tingkat lebih tinggi mengalami penyimpangan sesuai dengan yang ditanyakan.

Sekitar 10 persen populasi umum mendapat diagnosa penyimpangan kecemasan, di kalangan komunitas Mensa angka itu mencapai 20 persen, demikian menurut penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Science Direct.

Terlalu Peka?

Penelitian mereka didasarkan pada model yang menduga bahwa orang cerdas dengan "otak hyper" akan lebih bereaksi terhadap rangsangan lingkungan sehingga "dapat mempengaruhi mereka pada gangguan psikologis tertentu dan juga kondisi-kondisi fisiologis yang melibatkan peningkatan sensori dan perubahan tanggapan kekebalan dan inflamasi."

Penelitian ini sepertinya mendukung pandangan tersebut, karena menengarai adanya peningkatan tingkat kesadaran sehingga mereka yang memiliki IQ lebih tinggi akan lebih bereaksi terhadap lingkungan mereka.

Reaksi lebih itu menciptakan skenario hyper brain/hyper body, yang memunculkan sistem syaraf pusat yang hiperaktif.

"Cukup besar porsi orang-orang ini yang setiap hari menderita karena mudahnya terangsang secara emosional dan fisik," demikian menurut para penulis penelitian.

Bahkan rangsangan kecil sekalipun, semisal suara aneh, "memicu tanggapan stres kronis tingkat rendah yang dapat mengaktifkan tanggapan hyper body," menurut Dr. Nicole Tetreault dari Pitzer University di California kepada situs web Thriveworks.

Namun demikian, penelitian ini menegaskan bahwa IQ tinggi bukanlah penyebab penyakit mental, tapi bisa ada korelasinya dengan komunitas sangat cerdas.