Rinduku Berontak, Tak Berotak

Share:
Capsa Susun

Kalimat apa yang pantas untuk mengawali tulisanku tentang riuhnya rinduku padamu? Selain 'to the point' bahwa aku rindu kamu.


Tahukah kamu, jika malam tadi aku bermimpi bertemu denganmu? Jawabannya kutahu pasti tidak. Kamu bukan cenayang. Bahkan lama kita tidak berbincang. Jika kuajukan pertanyaan tersebut padamu, rasanya lancang. Aku memang pihak yang memutuskan hubungan. Lalu menjauhkan diri darimu agar tak lagi bisa kamu pandang.

Biar kusampaikan kembali bagaimana keadaanku lewat tulisan. Meski akan terlihat sedikit cengeng dan kekanak-kanakan. Setidaknya aku bisa lebih tenang telah mencurahkan segala beban pikiran. Jika pesannya sampai padamu, kuharap kamu paham. Hatiku masih membiru lebam. Sesekali di malam hari, aku sering menyapu pipiku sendiri. Ada yang keluar dari mataku tanpa sengaja. Kadang deras hingga membentuk telaga. Pemicunya hanya satu, yaitu kamu.


Tak ada hal yang lebih menyeruak hati. Tak ada lagi yang lebih menyesakan dada. Selain teringat tentang kita berdua. Apa kamu merasakan hal yang sama?


Mimpiku sebenarnya lucu. Kugumamkan dalam hati ketika terbangun tadi. Kenapa harus kamu lagi? Kenapa harus orang yang dengan tega melukaiku dengan sengaja? Kenapa orang yang tak sekalipun memikirkan keadaanku dengan tak tahu diri masih saja berlalu-lalang dalam ingatan? Jika jawabannya bukan berasal darimu. Apa ini bukti bahwa lukaku belum hilang hingga dirimu masih terngiang? Apa selama ini aku hanya berpura-pura bahagia menghadapi kenyataan yang ada, seakan lupa di hatiku ada luka menganga? Apa maafku kurang tulus untuk bisa membuatku berlapang dada? Atau karena ada bagian kecil dari hatiku yang masih saja padamu ia merasa cinta?

Di antara kita berdua, kamu bisa jadi salah satu pihak yang paling beruntung. Maafku kamu dapatkan. Doa baik untukmu pun selalu kupanjatkan. Lalu, aku bisa jadi pihak lainnya yang paling tak berlogika. Melakukan hal tersebut padahal dengan tega telah kamu khianati berkali-kali. Juga kamu tinggalkan aku hingga harus berjuang menyembuhkan luka sendirian. Bodoh dan cinta itu kadang tak bisa dilihat perbedaannya, kan? Bisa kah kamu beritahu aku. Apa yang kulakukan adalah sebuah tindakan dewasa atau sebuah kebodohan anak remaja yang dimabuk asmara?


Senyum manismu yang kulihat dalam mimpiku sejujurnya masih mampu menenangkanku. Mata indahmu pula masih saja mampu membuatku jatuh hati padamu. Luka dan sakitnya hilang seketika. Aku lupa bahwa saat itu kamu tak nyata.


Ada hati yang bergemuruh. Rinduku padamu berontak tak berotak. Kuawali pagi ini dengan perasaan hampa tak bermakna. Jiwaku tertinggal dalam mimpi denganmu berdua. Duduk mesra bercengkrama. Menyampaikan rasa yang tak pernah putus asa. Bangsat! Kubilang. Mengapa mimpi harus kembali mengingatkanku betapa kamu pernah sangat kuperjuangkan. Hingga luka yang kamu goreskan pudar ditelan ketidaksadaran.

Melewatkan hari dengan wajah yang pucat pasi. Tak ada lagi kamu di sisi. Hatiku kembali merasa kesepian. Tak ada lagi kamu yang menggenapkan. Sebuah mimpi yang tanpa sengaja ditampilkan. Membuat usahaku untuk lepas darimu berantakan. Jalan keluar dari lingkaran ke-kita-an dengan sadis diluluhlantakkan. Rasanya logikaku tersesat di dalam sebuah perasaan yang tak ingin dihentikan.

Rinduku tak terbantahkan. Rasanya ingin kusampaikan dengan sebuah pertemuan. Biarpun singkat. Tapi itu cukup meredakan meski sesaat. Perlukah aku meruntuhkan ego dengan menyapamu lebih dulu? Padahal aku telah memutuskan untuk berlalu. Perlukah aku menjatuhkan kembali harga diri untuk mengunjungimu? Padahal ada komitmen yang kuciptakan untuk membentengi diri agar hal tersebut tak terjadi.


Disini aku melawan segala pantang. Dengan kuat mempertahankan segala ke-aku-an agar tak terlihat rendah kamu pandang. Meski rindu tak kunjung bisa kuredakan. Semoga aku bisa bertahan untuk melanjutkan perjalanan.