Sebuah Ironi Guru Honorer

Share:
Capsa Susun

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas tentang ironi guru honorer. Mengapa? Tidak ada yang membantah bahwa guru merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang mengabaikan guru, akan selamanya menjadi negara yang terbelakang. Ada beragam julukan di berikan kepada guru,salah satunya pahlawan tanpa tanda jasa. Julukan ini menggambarkan peran dan jasa guru bagi pendidikan indonesia. Kata ”tanpa tanda jasa menimbulkan kerancuan, di satu sisi menjadi sebuah kebanggaan, di sisi lain ada makna kesejahteraan guru diberikan seadanya saja.

Kesejahteraan mempunyai banyak tafsiran, di antaranya adalah kesejahteraan dimaknai sebagai sebuah balas jasa yang diberikan kepada guru honorer. Melihat dari sisi penghasilan, mungkin banyak orang berpendapat bahwa menjadi guru itu sedikit penghasilannya di banding pegawai negeri atau pengusaha. Namun apakah semiris itu? Guru yang baik adalah pembelajar yang baik.

Dilihat dari faktor kemauannya, guru dikelompokkan menjadi tiga kategori, yang pertama yaitu Guru Robot di mana dalam pengajarannya, ia hanya menjalankan tugasnya tanpa memahami apakah anak didiknya memahami apa yang telah ia sampaikan. Kategori kedua yaitu Guru Materialistis. mungkin ini lebih tepat sebagai julukan bagi ia yang lebih mementingkan penghasilannya dibanding dengan kualitas atau pengajaran yang diberikan kepada peserta didiknya. Bagi orang yang memahami betul tentang apa artinya mengajar pasti ia akan lebih memilih kategori ketiga ini, yakni Gurunya Manusia di mana dalam proses mengajar, seorang guru mengedepankan potensi siswanya dengan memahamkan apa yang ia jelaskan dan mempunyai keikhlasan untuk dapat mentransfer ilmunya agar lebih bermanfaat.

Sebagai pelaksana teknis, guru perlu mendapat perhatian. Jangan lagi ada deskriminasi guru berstatus PNS dan honorer dalam kesenjangan yang jauh. Keterampilan mengajar sangat membantu mengubah kapasitas mengajar guru. Ketika asap dapur bisa terus mengepul dan kemampuan bertambah, kemungkinan hasil belajar maksimal dapat diwujudkan. Rendah tinggi kualitas guru juga jangan hanya diukur dari sertifikiat. Pelatihan bertahap lebih diperlukan demi peningkatan kualitas guru, bukan hanya mengejar seminar atau pelatihan sehari yang marak belakangan ini. Siapa pun tahu meningkatkan profesionalisme tak bisa ditempuh melalui kegiatan sehari. Perlu dipertimbangkan upaya membuat pelatihan berkelanjutan bagi guru, sebab prinsip belajar adalah terus belajar sepanjang hayat.

Akhirnya perlu disadari berbagai kalangan peran penting seorang guru. Berhasil atau tidaknya proses pendidikan salah satunya ditentukan oleh guru. Tugas mulai mencerdaskan bangsa harus mendapat dukungan perangkat lainnya. Diperlukan kearifan dalam menilai peran seorang guru, di mana mereka mengajar sebagai sebuah upaya mempertahankan hidup. Sebagai calon guru, saya berharap, timbul kesadaran memperbaiki guru. Timbulnya kesadaran mengangkat harkat dan martabat guru honorer jika berprestasi harus dinaikkan jabatannya. Tak melulu seperti sindiran lagu Oemar Bakri puluhan tahun cuma makan hati.